Seorang pernah berucap padaku bahwa di balik sebuah karya besar tergolek kisah yang lebih besar lagi. Seni memang berarti keindahan tapi esensinya tak melulu indah. Ada rasa sakit atau amarah. Seniman memang tak pernah melompong. Nestapa bisa berubah wujud menjadi mahakarya yang apik menawan dengan sentuhan kepiawaiannya. Bungkus elok yang dicintai publik meskipun mereka tak sepenuhnya tahu kebusukan isinya.
Aku selalu ingin jadi sosok itu. Seniman. Aku selalu mendambakan keajaiban yang mereka miliki. Ya, menjadi tuhan atas sebuah transformasi, dari duka menjadi berkat. Namun, kurasa semua tak jadi sekejap. Perlu waktu lama untuk menempa kemampuan tersebut dan aku masih terlampau belia...
(Behind the story: This is truly unfinished. Dua paragraf di atas sebenarnya adalah prolog dari sebuah cerita yang hendak kutulis, namun cukup menjelaskan gagasan yang hendak disampaikan. Masih berupa pemikiran, sih, sebenarnya, belum membentuk cerita dengan segala ''bumbu-bumbunya''. Banyak mahakrya justru dihasilkan di tengah masa-masa depresif dalam kehidupan si seniman. Seniman itu seakan menghidupkan peribahasa dalam bahasa Inggris: If live gives you lemon, make a lemonade. Jika kau merasakan asamnya kehidupan manfaatkan itu menjadi sesuatu yang lebih baik. The artists surely do it! )
:)
No comments:
Post a Comment